Review: Sitti Nurbaya by Marah Rusli

13333419

Kenangan saya tentang Sitti Nurbaya hanyalah Novia Kolopaking, Gusti Randa, dan Him Damsyik yang wajahnya sempat ada di layar kaca. Saya masih terlalu kecil untuk tahu detil cerita di layar kaca itu. Dan walaupun membaca buku-buku Angkatan Balai Pustaka lainnya, buku ini belum pernah saya sentuh. Yang saya tahu, kisah-kasih Samsulbahri dan Sitti Nurbaya tidak terlaksana paripurna, karena perjodohan si tokoh wanita dengan kakek tua jahat bernama Datuk Meringgih.

Ternyata saya salah!

Samsulbahri (Sam) dan Sitti Nurbaya (Nur) sudah saling mengenal seumur hidup mereka. Makan, minum, bermain, sekolah, selalu bersama. Orang tua mereka pun juga bersahabatan dan layaknya saudara. Sam yang berusia lebih tua telah menyelesaikan sekolahnya di Sekolah Belanda di tanah Padang berencana untuk melanjutkan pendidikan kedokteran di Pulau Jawa. Berat rasa hati Sam meninggalkan kampung halaman, orang tua, juga Nur yang selama ini ia telah jatuh hati padanya. Apalagi Nur pun juga menyambut cinta Sam.

Walaupun bersedih pada awalnya, tapi janji saling cinta dan setia amat kuat. Mereka saling berkirim surat untuk melepaskan rindu. Hingga suatu hari, datang berita yang meruntuhkan jiwa Sam. Hal yang sebelumnya Sam pernah mimpikan benar datang. Keluarga Baginda Sulaiman -Ayah Nur- mengalami bencana besar yang datangnya tiba-tiba dan terus-terusan. Baginda Sulaiman yang bangkrut berusaha bangkit, meminjam uang, dan meminta pertolongan. Tidak ada yang menolongnya. Hanya Datuk Meringgih yang seperti berusaha menolong namun ternyata menjerumuskan. Akibat tidak sanggup membayar hutang, Datuk Meringgih mensyaratkan ia tidak akan memenjarakan Baginda Sulaiman jika Nur hendak dikawin. Sesungguhnya Baginda Sulaiman tidak memaksa Nur. Lebih baik dipenjara, lebih baik hidup dalam kemiskinan, daripada putrinya menderita. Namun di hari Baginda Sulaiman hendak diseret ke penjara, Nur tiba-tiba bersedia untuk menikah dengan Datuk Meringgih walaupun hidupnya akan sengsara.

Masalah belum berhenti, terus datang dan bertubi-tubi. Sampai 4/5 buku yang terus ada hanyalah kesedihan, kematian, dan balas dendam.

siti

Sumber: di sini

Sitti Nurbaya mengangkat budaya Sumatra Barat dengan cukup detil dan intens. Penjabarannya dapat diambil dari nasihat-nasihat, percakapan, bahkan pula ratapan, yang sangat panjang macam nasihat Baginda Sulaiman (ayah Nur) yang bisa menghabiskan lebih dari empat halaman. Isu penting yang menarik bagi saya ada dua: Clash antara budaya setempat dan ajaran agama, juga tentang emansipasi wanita.

Sesuatu yang belum kauketahui benar-benar, janganlah kaucela lekas-lekas. Dalam agama kita pun dilarang menuduh seseorang kafir atau Islam, karena sekalian itu, hanyalah Tuhanlah yang tahu. Apalagi sebab hati manusia itu tiada tetap, bertukar-tukar juga sebilang waktu. Sekarang baik, besok barangkali jahat; tak dapat ditetapkan, karena manusia itu bersifat lemah. Janganlah menilik yang lahir saja, sebab yang batin itulah yang lebih berharga. Dan tahukah engkau akan batin orang? (Hal. 234)

Haruslah perempuan itu terpelajar, supaya terjauh ia daripada bahaya, dan terpelihara anak suaminya dengan sepertinya. Tentu saja kepandaiannya itu dapat juga dipergunakannya untuk kejahatan. Itulah sebabnya perlu hati yang baik dan pikiran sempurna (Hal. 248)

Ciri kebudayaan lain adalah pantun berbalas-balasan yang panjangnya juga tidak mau kalah. Surat Sam kepada Nur saja bisa enam halaman baru pantunnya saja. Belum lagi kalau bertemu, aduhai asiknya kasih berpadu!

Dari jauh kapalmu datang,
pasang bendera atas kemudi.
Dari jauh adikmu datang,
melihat Kakanda yang baik budi.

Selasih di kampung Batak,
perawan luka tentang kaki.
Terima kasih banyak-banyak,
sudi datang melihati. (Hal. 227)

Membaca buku klasik memang adalah PR tersendiri bagi kaum masa kini yang dinamis. Perbedaan diksi dan tata bahasa, belum lagi isi yang sebagian besar nasihat dan nasihat, membuat saya perlu waktu untuk mencerna karena seringkali mengantuk dan merasa bosan. Saya pikir terlepas dari membosankannya, Marah Rusli berhasil mengemukakan semua isu penting yang sudah saya sebutkan di atas. Masalah-masalah yang ada juga masih relevan hingga saat ini. Kita pun juga bisa belajar sejarah di penghujung tahun 1890an ini.  Seperti apa kata Italo Calvino, a Classic is a book that has never finished saying what it has to say.

three half


Buku dibaca dari koleksi Perpustakaan Kemendikbud, Jakarta.

Advertisements

2 thoughts on “Review: Sitti Nurbaya by Marah Rusli

  1. Oh, ternyata begitu tho ceritanya. Tak kirain dijodohin alias kawin paksa. Bagus nih, emang musti baca nih aku kayaknya (kayaknya juga, di perpus sini ada edisi lawasnya). Btw, kalo liat nama Baginda Sulaiman, aku jadi inget serial Turki “Abad Kejayaan”, wkwkwk.

    Aduhai… Tapi buku sama repiunya sama-sama lebai… haihaihai… 😁😁😁

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s