Review: The Boy in the Striped Pyjamas by John Boyne

7616-scaled500

Title: The Boy in the Striped Pyjamas (Anak Lelaki Berpiama Garis-garis)

Author: John Boyne

Translator: Rosemary Kesauly

Pages: 240 P

ISBN: 979-222-982-5

Publisher: PT. Gramedia Pustaka Utama, 2007

Sudah lama waktu berlalu sejak saya menjadi anggota perpustakaan tertentu. Seingat saya, terakhir saya menjadi anggota perpustakaan Japan Foundation. Setelah bekerja dengan jam rutin, saya hampir tidak pernah lagi berkunjung ke perpustakaan. Sebenarnya lagi, perpustakaan bukan tempat favorit saya membaca buku. Hanya karena saya tidak terbiasa membaca dengan satu posisi tertentu, yang biasanya membuat saya mengantuk. Tapi kali ini saya bertekad untuk pergi ke perpustakaan lagi. Dulu, saya berhasil menekan budget pembelian buku karena saya terus meminjam buku. Dengan rencana saya untuk kembali menekan budget buku (apalagi BBW mau datang), maka pergi ke perpustakaan adalah hal yang sudah pasti harus saya lakukan. Singkat cerita, Sabtu lalu saya pergi ke perpustakaan Kemendiknas. Saya menghubungi Azmi yang pernah saya lihat fotonya pergi ke perpustakaan itu. Rasa-rasanya saya perlu energi untuk pergi ke tempat baru pertama kalinya. Koleksi perpustakaan itu tidak bisa dibilang luar biasa. Bukunya masih begitu sedikit. Tapi untuk saya yang tidak punya buku banyak, dan tidak membaca banyak, jumlah dan variasi judulnya bisa dikatakan cukup.

Setelah melakukan pendaftaran yang tidak dipungut biaya, saya memutuskan untuk meminjam 2 buku. The Boy in the Striped Pyjamas (Anak Lelaki Berpiama Garis-garis) adalah salah satunya. Saya yakin beberapa teman saya ada yang punya, sehingga saya bisa pinjam, tapi kesempatan itu belum ada. Alasan saya meminjam buku ini adalah karena memang sudah penasaran, juga karena buku ini tipis. Sebagai pembaca lambat, saya perlu meyakinkan diri untuk membaca buku tepat waktu.

Tidak ada blurb di cover belakang buku. Saya juga tidak suka membaca blurb. Dan saya tidak membaca review, hal yang biasanya saya lakukan ke buku yang saya rasa saya pasti akan membacanya suatu saat. Yang saya tahu buku ini berkaitan dengan Perang Dunia II. Dan ya setelah saya baca, memang berhubungan dengan PD II.

Bruno adalah seorang anak laki-laki yang bertempat tinggal di Berlin. Ia hidup di rumah mewah lima lantai bersama kakak perempuannya yang menurutnya payah, ibunya, beberapa pembantu, dan yang pasti juga dengan ayahnya, seorang komandan, salah satu kepercayaan sang pemimpin kejam, The Fury. Dikarenakan keadaan, keluarga ini diharuskan pindah jauh dari kota, ke sebuah rumah yang Bruno pikir membosankan berada di daerah (yang Bruno tahu) disebut Out-With. Bruno tidak punya teman. Bahkan ia juga tidak punya tetangga. Orang lain yang ia lihat hanyalah para serdadu yang mondar-mandir di rumahnya, beberapa pelayannya, dan sekumpulan banyak orang di kejauhan yang berpiama garis-garis. Sampai di sini, bagi yang sudah mengetahui soal Perang Dunia II, maka akan tahu setting cerita ini, dan di mana Bruno tinggal.

Selanjutnya adalah kisah tentang Bruno yang tiba-tiba bertemu dengan teman barunya, seorang anak sebaya yang berpiama garis-garis. Namanya Shmuel. Terpisah oleh pagar, persahabatan Bruno dan Shmuel hanya sebatas bercakap-cakap dan makanan, yang biasa Bruno sisipkan. Kisah mereka ini tidak akan saya tuliskan.

Walaupun bercerita soal anak-anak, buku ini memiliki label “Buku Dewasa” di belakangnya. Yang adalah sedikit janggal karena dari sumber-sumber yang saya lihat, buku ini justru di-short listed di beberapa kategori anak. Dengan tokoh anak-anak, diksi dan frase menjadi sederhana dan mudah dicerna. Penerjemahannya pun enak dibaca. Tapi plot cerita ditambah nilai historisnya , membuat buku ini punya magnet kuat untuk dibaca. Ketika saya membaca, yang saya tahu bahwa hati saya perih, teriris pelan-pelan. Saya membayangkan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi, termasuk bagaimana akhir cerita. Saya memantapkan diri bahwa akan ada hal-hal yang akan terjadi dari ekspektasi. Di sekitar halaman 220, saya benar-benar ketakutan, lebih dikarenakan ekspektasi saya sepertinya akan hilang. Dan pada akhirnya, saya benar-benar kesal dan ingin memaki.

four

Seperti yang saya duga, buku ini pasti ada filmnya. Tadinya saya menolak mentah-mentah ide untuk menonton film ini karena setelah membaca buku ini, saya benar-benar depresi hingga mencari berbagai macam cara supaya hati menjadi senang dan tenang. Tapi setelah melihat tokohnya, hmm, Asa Butterfield, boleh juga :D

Advertisements

4 thoughts on “Review: The Boy in the Striped Pyjamas by John Boyne

  1. Opaaaattt…..aku komen nih, heheee #plaks
    Hmm… ini ternyata buku yang bikin sampe kebayang suara anak2 saat ngucurin kran di kamar mandi… Filmnya juga bikin depresi lho *wink*

    Like

  2. Pingback: Reading Life 2016 |

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s