Review: Cinderella Teeth by Sakaki Tsukasa

ct

Title: Cinderella Teeth

Author: Sakaki Tsukasa

Translator: Nurul Maulidia

Pages: 272 P

ISBN: 978-602-7742-63-5

Publisher: Penerbit Haru, 2015

Musim panas sudah tiba, Kano Sakiko, mahasiswa tingkat dua, memutuskan untuk mencari pekerjaan paruh waktu. Selain untuk mengisi liburan, ia juga ingin mengumpulkan uang. Sahabatnya, Hiro, pun juga setuju untuk melakukannya. Tapi kemudian Hiro memutuskan untuk bekerja paruh waktu di Okinawa. Saki (begitu biasa dia dipanggil) yang memutuskan untuk tetap di Tokyo, mendapat informasi lowongan dari ibunya. Pekerjaan barunya nanti ini adalah resepsionis. Yang Saki tidak mengira, ternyata resepsionis di sebuah klinik gigi. Padahal Saki takut pergi ke dokter gigi! Bagaimana ini?

Saki yang tidak kuasa menolak pekerjaan itu, apalagi pamannya juga bekerja di sana. Walaupun takut, Saki akhirnya memulai “petualangan” barunya bersama para dokter gigi, perawat gigi, pekerja administrasi, dan seorang tekniker gigi yang keren. Kisah cinta musim panas pun apakah akan dimulai?

Sejak pertama saya tahu judul buku ini, saya sudah memprediksi saya akan suka. Karena saya pikir ini adalah buku tetang seorang anak kecil dan peri gigi. Setelah saya membaca premis di belakang buku ini, baru saya sadar jika saya salah. Hahaha. Ini adalah buku pertama dari Penerbit Haru yang saya baca. Saya sempat juga mengira nama Sakaki Tsukasa adalah seorang Indonesia yang memakai nama pena ke-jepang-jepang-an. Tentu saja saya salah lagi. Karena si penulis benar-benar orang Jepang *self toyor*

Cerita pertama dari lima bab di buku ini (ya, hanya lima bab) lagi-lagi mengejutkan untuk saya. Kenapa? Karena ternyata ceritanya seputar gigi! (YA IYALAH, PAT! ITU DARI JUDUL JUGA UDAH BILANG GIGI). Pasien yang menjadi concern adalah Takatsu Yumi. Seorang pekerja cantik yang merawat giginya di klinik itu. Masalah kemudian datang ketika kekasih Takatsu marah-marah ke klinik tersebut, protes akan mengapa klinik tersebut melakukan perawatan yang terlalu lama. Tentu saja para pekerja di sana bingung. Masalah kemudian terungkap bahwa Takatsu punya kebiasaan mengerot gigi. Karena malu dengan kebiasaan kerotnya, Takatsu mencari berbagai alasan yang membuat persoalan dengan kekasihnya. Bagaimanakan penyelesaiannya?

Seperti yang saya tulis di atas, buku ini bercerita seputar gigi. Saya disuguhi dengan istilah-istilah kedokteran gigi yang mudah dimengerti. Yang dasar, misalnya mengapa ketika kita makan sebaiknya mengunyah pelan-pelan? Atau adapula penyakit ilusi bau yang membuat kita merasa berbau mulut bau. Termasuk bahan apa yang sebaiknya dipakai dalam pembuatan gigi palsu. Bahkan fobia untuk pergi ke dokter gigi pun ada pelajarannya! Membaca buku ini membuat saya jadi ingin lebih menjaga kesehatan gigi.

Saya menebak buku ini diterjemahkan langsung dari Bahasa Jepang. Penerjemahannya menurut saya terkesan kaku, kurang luwes, walaupun cukup mengerti untuk dipahami. Saya tidak berbahasa Jepang lancar, tapi memang, frase Bahasa Jepang berbeda dengan frase Bahasa Indonesia. Yang berakibat pada kejanggalan saat kalimat langsung diartikan. Misalnya saja pada kalimat di bawah ini:

“Kalau begitu, bisa minta jam sepuluh?’

“Saya mengerti. Kami akan menunggu Anda besok jam sepuluh.”

Orang Jepang biasa mengucapkan “Wakarimashita” yang secara harfiah berarti “Saya mengerti”  untuk menjawab sesuatu yang disetujui. Sesuatu yang janggal jika diucapkan di sini. Untuk saya, ini bisa jadi “kekurangan” dalam pengetahuan penerjemahan. Akan tetapi bisa juga meningkatkan nilai plus. Kenapa? Karena pembaca akan disuguhi nuansa Jepang yang melekat. Rasanya saya benar-benar bisa membayangkan ekspresi ketika para tokoh berbicara, gestur mereka yang canggung, dan kesadaran melakukan pelayanan yang baik kepada klien. Seperti sedang melihat drama Jepang di televisi (ya sekarang sih dari hasil donlotan). Cinderella Teeth juga gemar mendeskripsikan makanan-makanan jepang yang bikin saya penasaran. Unajuu, kimosui, kushiage, dan masih banyak nama makanan yang tidak familier. Tapi jangan khawatir, ada catatan kaki yang menjelaskannya.

Hal menyenangkan lainnya adalah…

Tentu saja kisah percintaan antara Saki dan si tekniker gigi, Yotsuya. Yotsuya yang cool  tapi tidak tsundere benar-benar membuat saya malu dan bisa membuat muka saya memerah. Apalagi Yotsuya digambarkan memiliki  telapak tangan pucat, jemari yang panjang serta ramping, ujung jari lentik dan bisa merasakan selisih 0,1 mili saat memasang sesuatu. Bikin saya ingin teriak GYAAAAA GYAAAAA…

0f720af7b1b1ec985

Selama bekerja paruh waktu ini, Saki sering menelepon Hiro, sahabatnya. Kabarnya kisah Hiro juga akan dibukukan. Saya jadi ikut penasaran.

five

 

Advertisements

3 thoughts on “Review: Cinderella Teeth by Sakaki Tsukasa

  1. Aduh aku kok ngekek kejer mbayangin yang gyaaaa gyaaa itukamu, pat. XD
    Btw si wardah kapan ngirim buku ini yaaaa..aku udh penasaran pengen bacaaaaaa

    Like

  2. Pingback: Monthly Recap: March 2016

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s