Review: The Dusty Sneakers by Teddy W Kusuma & Maesy Ang

22930787

Title: The Dusty Sneakers – Kisah Kawan di Ujung Sana

Author: Teddy W.Kusuma & Maesy Ang

Pages: 272 P

ISBN: 978-021-306-321

Publisher: Noura Books, 2014

Walaupun saya sudah tahu keberadaan POST di Pasar Santa sekitar dua tahun lalu, saya baru mengunjunginya dua kali. Terakhir ketika saya membeli buku-buku di event Drive Books Not Cars beberapa saat lalu. Lalu, saya baru tahu tentang si empunya POST, Teddy dan Maesy belum lama ini. Pun dengan blog mereka The Dusty Sneakers yang baru sedikit kali saya baca.

Ketika melihat nama The Dusty Sneakers yang di bayangan saya adalah blog perjalanan yang akan pamer soal apa yang mereka lihat di sana. Atau bagaimana cara perjalanan ke sana dengan murah meriah. Atau blog yang suka menganjurkan agar kami, para pemuda-pemudi Indonesia, jangan memikirkan uang saja, bahwa kami sebaiknya bepergian agar meraih sesuatu yang tidak bisa kami dapatkan di sekeliling kami. Yang menurut saya itu adalah apa sih, nggak jelas. Bahkan ketika saya memutuskan untuk membeli buku ini di acara Pojok Buku lalu, saya masih sangsi. Walaupun akhirnya saya tahu, saya cukup salah. Sejak prolog dalam buku ini, saya sudah diperingatkan. Bahwa buku ini mengulas hal-hal yang mereka jumpai, tentang teman perjalanan, tentang mimpi masa kecil, tentang keberanian.

Maka mulailah perjalanan saya dengan catatan perjalanan dua sahabat Teddy dan Maesy. Ketika Maesy harus ke luar negeri untuk melanjutkan belajar, Teddy akan tetap di Jakarta dengan kesibukan bekerja. Tapi mereka tetap selalu ingin bertukar kabar. Maka singkat cerita, dimulailah kisah dalam blog mereka yang diberi nama The Dusty Sneakers. Berjanji, Maesy akan bercerita tentang kehidupannya di Belanda (dan tempat-tempat lain yang ia kunjungi) dengan nama pena Gypsytoes. Sedangkan Teddy di tempatnya berada dengan nama pena Twosocks. Maka kemudian Maesy pergi, dan cerita terus berlanjut.

Dia memilih nama “Gypsytoes”, nama yang mengingatkannya akan seorang gadis kecil yang selalu riang gembira dan gemar berlarian ke sana-kemari. Saya suka ide ini. Saya memilih menggunakan nama ‘Twosocks” yang mengingatkan saya akan sebuah kisah masa kecil. Twosocks adalah seorang bocah Indian yang pemberani (Hal. 8)

Maesy kemudian menceritakan kehidupan perkuliahannya yang bergaul dengan teman-teman baru. Perjalanan menakjubkan seperti mewujudkan mimpinya untuk mengunjungi toko buku impian, Shakespeare and Co. Atau ketika ia menemukan sahabat baru bernama Kiran setelah melakukan perjalanan ke Portugal yang cukup menantang. Cerita yang paling saya suka adalah ketika Maesy berjalan-jalan ke Palermo, suatu kota yang tidak ada dalam daftar kota yang ingin didatanginya, tapi kemudian begitu menikmati suasana Palermo yang sesuai dengan artinya “always fit for landing in“. Saya selalu suka dengan cerita yang dimulai dengan pengalaman tidak terlalu istimewa tapi berakhir dengan kejutan yang menyenangkan. Di Palermo pula, cerita ditutup dengan pertemuan dengan seseorang yang membuktikan bahwa dunia ini begitu kecil, un piccolo mondo.

Teddy memang hanya di Indonesia, tapi Indonesia pastinya juga sangat menarik. Pemikiran dalam setelah mendatangi Baduy, kegalauan “putra daerah” akan akar tradisi budayanya, atau cerita tentang betapa beraninya pemuda minang untuk merantau. Tak lupa dengan sahabatnya tersayang, Arip Syaman (yang bikin saya jadi penasaran).

Buku ini dibagi menjadi tiga langkah (bab). Bab sebelum Maesy pergi, kemudian saat mereka bertemu di… ada deh tebak saja di mana lol. Bab terakhir adalah di detik-detik Maesy akan kembali ke Indonesia. Saya tidak mengerti soal teknik penulisan, tapi menurut saya Twosocks dan Gypsytoes menulis dengan sangat rapi, walau belum disebut istimewa. Buku ini pun cukup manis bagi sepasang sahabat (dalam tanda kutip dong pastinya :p). Saking manisnya saya kadang harus mengernyit karena membayangkan keduanya benar-benar berbicara dengan kalimat yang manis (tapi mosok pakai “aku” – “kau”?) dan berinteraksi dengan cara yang manis.

Yang paling saya suka dari penulisannya adalah karena mereka benar-benar menggunakan Bahasa Indonesia. Tentu saja ada kata yang memakai bahasa lain, tapi tidak menjadikan buku ini memakai bahasa campur-campur. Katanya, Gypsytoes lebih nyaman memakai Bahasa Inggris dalam tulisannya, sehingga harus diterjemahkan oleh Twosocks terlebih dahulu. Yang itu membuat saya agak geli karena ketika mendengar Gypsytoes berbicara, justru ia memiliki kemampuan berbicara yang tak kalah rapi dan runut. Saya jadi penasaran dengan tulisan Gypsytoes dalam Bahasa Indonesia ^^

“Memori adalah hal yang aneh. Terkadang dia bisa berubah-ubah, terkadang sangat hidup, dan terkadang hilang sama sekali.” (Hal. 113-114)

IMG-20160228-WA0003

four

 

Advertisements

2 thoughts on “Review: The Dusty Sneakers by Teddy W Kusuma & Maesy Ang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s