Buku Teman Minum Kopimu

Soal saya mencintai buku, itu sudah jelas. Tapi kecintaan saya baru seputar membaca dan terkadang menuliskannya. Untuk membicarakannya hanya sebatas dengan teman-teman yang sudah saya kenal saja. Seringkali saya merasa seperti setitik debu di tengah sahara, seringkali saya jengkel karena perbedaan selera. Pembicaraan mendalam soal literasi sudah tidak perlu dibincangkan, tidak ada di dalam pikiran saya. Malu, bukan apa-apa.

A post shared by POST Bookshop (@post_santa) on

Ketika saya membaca soal bicara tentang buku yang diadakan POST & Seumpama Books, saya tertarik. Ini adalah sekian banyak dari rangkaian kegiatan mereka di Pojok Buku yang diadakan di kedai kopi lumayan ngehits 115 Coffee di bilangan Gandaria, Jakarta Selatan. Sebenarnya saya tahu POST ini suka sekali mengadakan acara kumpul-kumpul bermanfaat, tapi saya agak enggan datang karena 1) Malas, 2) Nggak ada teman, 3) Malu. Heheh. Tapi di iklan acara “Buku Teman Minum Kopimu” ini ada keterangan kecil mengatakan tiap sesinya untuk 6 orang saja. Wah, tidak terlalu banyak, jadi saya tidak perlu menghabiskan banyak energi di sana :D

Singkat kata, saya memilih sesi buku berbahasa Indonesia yang terselenggara (cailah terselenggara) di hari Minggu, 28 Februari 2016.

IMG_20160228_162406

Saya datang di jam dua siang lebih sedikit, ketika masuk dan menoleh ke kanan, disambut oleh nngg… siapa ya hahaah *dijitak* mbak cantik dari Seumpama Books. Kemudian berkenalan dengan Maesy dan Teddy, sedikit berbincang, dan menunggu teman baru yang belum datang. Ngobrol-ngobrol (karena kalau menulis diskusi kesannya bagaimana ya) dimulai jam setengah tiga sore. Selain Teddy, Maesy, ada saya,  Rahael, Maria, Kesa, dan Najib yang mengelilingi satu meja kecil sehingga membuat suasana lebih akrab #ahzek.

Acara santai ini dimulai dari saya yang sedikit menceritakan buku yang saya bawa. Kebetulan saya membawa buku “Di Bawah Lindungan Ka’bah” karya HAMKA. Salah satu buku favorit saya tahun lalu ini saya bawa karena saya suka dengan penggunaan bahasanya yang manis dan tentu saja berbeda dengan bahasa masa kini. Teddy mengungkit “Kambing dan Hujan” milik Makhfud Ikhwan yang juga menceritakan kisah cinta berbeda ala Romeo Juliet. Dan karena buku tersebut juga mengungkit HAMKA, saya jadi tertarik untuk membacanya. Saya juga membawa “Seribu Kunang-kunang di Manhattan” karena memiliki sejarah tersendiri untuk saya. Perlu 13 tahun lebih untuk saya hingga pada akhirnya mendapatkan buku itu.

Buku selanjutnya yang dibahas adalah “The God of Small Things” milik Arundhati Roy. Tidak berbahasa Indonesia, memang, tapi tidak masalah. Tidak akan ada yang disetrap. Rahael kebetulan akhirnya kembali memiliki buku ini setelah beberapa tahun “kehilangan”. Baik Rahael dan Maesy yang sudah membacanya menangkap bahwa bahwa walaupun ceritanya macam sinetron, tapi diksi dan gaya bahasa yang dipakai tidak membuat buku ini seperti sinetron. Saya sendiri sebenarnya sudah lama ingin membaca buku ini. Tapi malas :p Highlight pembahasan buku ini adalah ketika Maesy mengatakan bahwa buku ini memiliki cerita dengan adegan seks yang indah (eh indah apa apa ya?) dan feminin. Karena ingin tahu feminin seperti apa yang dimaksud, Maesy dengan baik hati membacakan tiga paragraf dari lima halaman adegan seks yang dimaksud :D

Maesy kemudian membahas tentang buku keluaran penerbit indie, Na Willa. Buku yang cover lust  ini menceritakan tentang Na Willa, anak berusia 5 tahun, yang hidup di Surabaya pada tahun 60-an. Saya tidak sempat membaca isinya, tapi sepintas sangat menarik, dan kabarnya buku ini tidak membuat pembaca diberikan nasihat secara gamblang. Teddy melanjutkan dengan membicarakan dua buku milik The Literary Brothers, “Si Janggut Mengencingi Herucakra” karya A.S.Laksana (yang gue kira ada hubungannya sama Andrei Aksana) dan “Rumah Kopi Singa Tertawa” karya Yusi Avianto Pareanom. Seingat saya (dan ingatan saya ini nggak bagus-bagus amat), Teddy lebih banyak bicara soal si Janggut.

Kemudian ada Kesa, yang ikut spontan melihat kami berkumpul. Kesa bercerita tentang “Bright Eyes” buku milik Brea Salim. Berisikan nostalgia seseorang yang merantau belajar di Amerika. Kendati penulisnya adalah orang Indonesia, buku ini dituliskan berbahasa Inggris. Najib kemudian membahas sebuah buku yang katanya sangat direkomendasikannya dan bermanfaat bagi antropologi Indonesia. Penulisnya kebetulan hadir di sana dan ketika buku ini dibahas lebih banyak diam dan tidak berkata-kata lol. Adalah “The Dusty Sneakers“, catatan perjalanan duo Twosocks dan Gypsytoes. Saya tidak akan membahas kenapa, kebetulan buku ini saya beli kemarin karena yah karena, dan resensinya akan naik setelah nanti membaca kalau nggak malas.

Teman baru terakhir, Maria, membawakan “Catatan Seorang Demonstran milik Nicsap Soe Hok Gie. Kesendirian dan perjuangan Soe Hok Gie yang begitu menyentuh. Itu saja tapi tidak hanya itu saja. Obrolan juga dialnjutkan berbagai rupa mulai dari “IEP milik Dee sampai “Dari Twitwar ke Twitwar-nya Arman Dhani. Soal buku kepenulisan hingga soal Aan Mansyur yang saya diprediksi sebentar lagi akan bertambah ngetop dengan puisi-puisinya.

Teman baru, pembicaraan yang santai dan hangat, kopi yang nikmat (cappuccino-nya enak), tentu saja saya tak menolak jika ada kesempatan lainnya.

A post shared by POST Bookshop (@post_santa) on

Advertisements

8 thoughts on “Buku Teman Minum Kopimu

  1. Pingback: Review: The Dusty Sneakers by Teddy W Kusuma & Maesy Ang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s