Review: The Wonderful Wizard of Oz by L. Frank Baum

oz

Title: The Wonderful Wizard of Oz

Author: Lyman Frank Baum

Format: E-book by Feedboks

Page: 111 Pages

*Review is in Indonesian*

Adalah Oz, penyihir yang tinggal di Kota Emerald. Dengan kekuasaan dan kekuatannya, Oz bisa mengabulkan segala permintaan. Hal itu yang diinginkan gadis kecil dari Kansas, Dorothy – mengabulkan permintaannya. Disebabkan oleh bencana besar yang menerbangkan rumah dan isinya, Dorothy dan Toto, anjingnya,mendarat, atau mungkin bisa dikatakan terdampar, di suatu negeri yang indah. Mereka berpisah dari Paman Henry dan Bibi Em. Tapi seindah-indahnya satu negeri, tidak ada yang lebih menyenangkan dari rumah sendiri.

Dorothy pergi ingin menemui Oz. Lalu di jalan ia bertemu satu per satu kawan baru yang menjadi teman seperjalanannya. Scarecrow, si orang-orangan yang ingin memiliki otak, Tinman si penebang kayu yang ingin memiliki hati, dan Singa pengecut yang menginginkan keberanian. Berlima mereka menyusuri jalan setapak kuning menuju Kota Emerald. Tapi seperti yang sudah diberitahukan, perjalanan ke Kota Emerald tidak mudah. Dengan segala kesulitan, Dorothy dan kawan-kawannya berhasil menuju istana Oz, tapi cerita belum berakhir.

“What shall we do now?” asked Dorothy sadly.

“There is only one thing we can do,” returned the Lion, “and that is to go to the land of the Winkies, seek out the Wicked Witch, and destroy her.”

“But suppose we cannot?” said the girl.

“Then I shall never have courage,” declared the Lion.

“And I shall never have brains,” added the Scarecrow.

“And I shall never have a heart,” spoke the Tin of woodman.

“And I shall never see Aunt Em and Uncle Henry,” said Dorothy, beginning to cry.

Ini pertama kali saya mengerti cerita tentang Dorothy dan Oz. Dulu sekali saya pernah membaca versi super ringkasnya dari buku anak-anak. Tidak ada yang saya ingat selain kedua nama itu. Lalu Dorothy yang berpakaian biru, lalu ada peri (sepertinya penyihir) yang memakai topi kerucut panjang, dan ada robot (yang sepertinya adalah Tinman tapi wujudnya malah saya ingat seperti C3PO). Mengingat sangat sedikitnya pengetahuan saya soal cerita klasik, saya memutuskan untuk mencoba membaca secara utuh cerita klasik untuk anak-anak di tahun ini.

bukudongenganak-anakbergambar41penyihirozu_21469

bukudongenanak-anakbergambar47putriozmaozu_22106

Sumber: di sini

Wizard of Oz jelas merupakan fantasi klasik yang penuh dengan kejutan. Negeri yang keseluruhannya hijau, pohon yang bisa bergerak sendiri untuk menjaga jalan, atau kota porselen yang seluruh penduduknya sampai sapi dan kambingnya juga dari porselen. Belum lagi monyet bersayap yang juga muncul ibarat jin dalam botol Aladin yang mampu mengabulkan tiga permintaan.

Membaca buku anak memang harus benar-benar memosisikan diri sebagai anak. Polos dan tidak ada prasangka buruk dan kejam. Kalau dari sisi saya, bukan dari sisi fantasinya yang sedikit mengerikan. Entah kenapa walaupun tokoh yang mati adalah antagonis, tapi saya sampai melotot ketika membaca beberapa pembunuhan (beberapa bahkan tampak sadis).  Bagian lain yang membuat saya sedikit komentar “apa sih?” adalah diucapkannya berulang-ulang dan terus berulang-ulang setiap keinginan kawanan Dorothy itu, atau betapa seringnya mereka berputus asa. Tapi mungkin itu karena saya saja yang kurang sabar. Saya membayangkan jika saya membacakan buku ini kepada anak-anak, kalimat berulang-ulang tersebut justru bisa membawa perasaan pendengar naik turun, dan itu yang diharapkan sebuah cerita, bukan? Dimainkan perasaan.

wizard-of-oz-chick-flick_o_829682

Tentu saja seperti semua cerita anak lainnya, Wizard of Oz juga mengajarkan hal-hal baik. Yang sudah pasti adalah kesetiakawanan dan memahami perasaan orang lain. Untuk saya ajaran-ajaran baiknya ada di poin berikut.

“Experience is the only thing that brings knowledge, and the longer you are on earth the more experience you are sure to get.”

“The true courage is in facing danger when you are afraid.”

Semua orang harus membaca buku ini. Apalagi ini klasik, jadi hak ciptanya sudah open access. Yang berarti bisa dibaca legal di semua media. Karena itu saya membaca ini dalam format e-book (dan terima kasih kepada saudara sepupu saya yang sudah meminjamkan handphonenya yang berlayar 5 inchi jadi saya lebih mudah membacanya hahaha).

four

 

Advertisements

3 thoughts on “Review: The Wonderful Wizard of Oz by L. Frank Baum

  1. Iya karena konsep dongeng seperti itu ya, bagaimana si tokoh mengambil keputusan, bagaimana kalau di tengah jalan mandeg, gimana mereka mengatasi segala halangan. Yang justru mengajarkan moral melalui dongeng tanpa menggurui ya :) Dan saya juga udah baca selalu sukaa dengan dongeng.

    Like

  2. Pingback: Monthly Recap: January 2016

  3. Pingback: Reading Life 2016 |

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s