Review: The Casual Vacancy by J.K.Rowling

tcvTitle: The Casual Vacancy (Perebutan Kursi Kosong)

Author: J.K. Rowling

Translator: Esti A. Budihabsari, Andityas Prabantoro, and Rini Nurul Badariah

Pages: 593 p

ISBN: 978-602-9225-68-6

Publisher: Penerbit Qanita, 2012

** Review is in Indonesian **

6.11 Kekosongan jabatan (casual vacancy) dianggap terjadi:

a. Ketika seorang anggota dewan tidak bisa hadir untuk menerima pelantikan jabatannya dalam kurun waktu yang sudah ditentukan; atau

b. Ketika surat pengunduran dirinya disetujui; atau

c. Ketika ia meninggal dunia

Charles Arnold Baker, Local Council Administration; Edisi Ketujuh.

Yang mati adalah Barry Fairbrother. Barry yang (kabarnya) kudus, baik, mudah tertawa, perhatian, dan sayangnya mati karena pembuluh darah di otaknya pecah di usia empat puluhan. Barry yang mendukung Fields agar tetap di Pagford. Yang adalah seorang anggota dewan kota, yang meninggalkan satu kursi kosong untuk diperebutkan.

Pagford adalah sebuah kota kecil yang indah, dikelilingi tiga bukit yang salah satu puncaknya bertengger reruntuhan biara abad kedua belas, tak jauh dari sana, dilengkapi sebuah sungai yang juga melintasi kota. Rumah-rumah di kota itu rumah tua yang luas dengan birai-birai jendela yang besar. Berbeda dengan Fields yang kumuh, yang rombeng. Penghuninya (mungkin banyak disangka) pemadat, kantong-kantong sampah bertebaran, taman-tamannya tak terawat. Nuansa yang berbeda itulah yang membuat warga asli Pagford yang “dikepalai” Howard Mollison untuk membuang Fields dari bagian kotanya. Hanya itu, dan maka Howard gemuk pemilik restoran itu mendukung Miles putranya untuk maju menjadi calon pengganti Barry. Masih ada dua bakal kandidat lainnya, Colin Wall, seorang wakil kepala sekolah yang begitu mencintai dan mengagumi Barry. Seorang lainnya adalah Simon Price, seorang penyendiri yang kasar dan brutal.

Yang diingkari, yang dipendam, yang disembunyikan dan disamarkan (Hal. 342)

Ketika membaca paragraf awal soal kematian Barry, saya mulai membayangkan soal perebutan kekuasaan yang syarat unsur politik. Tapi rupanya saya agak salah. Pagford adalah kota yang kecil, mungkin terlalu kecil, dinding tiap rumah begitu tipis. Perebutan kursi politik tak ubahnya suatu peperangan antar individu yang terlibat. Dan buku ini menceritakan dengan detil intrik kehidupan yang terjadi pada setiap individunya…

Yang brengsek itu.

TCV berisi soal tokoh-tokoh, penjabaran adegan per adegan berfungsi untuk menguatkan suatu karakterisasi tokohnya. Saya perlu membuat catatan coretan di kertas terpisah guna membantu saya membedakan setiap tokohnya yang brengsek, yang penuh masalah itu. Seperti yang sudah saya bilang di atas, Pagford mungkin kota yang terlalu kecil, jadi jangan heran jika seluruh tokoh yang ada di dalamnya saling mengenal, saling mengenal, dan bertubrukan, bagai benang kusut yang tidak pernah dirapikan.

Tidak hanya orang dewasa gila yang mendominasi, anak-anak muda di buku ini pun juga bisa dimaki brengsek. Saya tidak mau berpanjang lebar bercerita mengenai tokoh-tokohnya (lagipula susah banget ini bikin reviewnya lol). Serius, ini harus dibaca sendiri, tapi mungkin beginilah sedikit penjabarannya. Saya akan mengambil tokoh bernama Stuart Wall alias Fats, seorang bocah 16 tahun, untuk sekadar memberi contoh keruwetan tokoh-tokohnya.

Jadi anggap saya adalah Fats, ayah saya adalah wakil kepala sekolah SMA Winterdown, yang kemudian mencalonkan diri menjadi bakal calon pengganti Barry. Ibu saya adalah guru konseling di sekolah yang sama. Sahabat saya adalah seseorang yang ayahnya adalah orang brengsek yang juga mencalonkan diri untuk menggantikan Barry. Ibu sahabat saya dan istri oposisi ayah saya berteman baik. Sahabat saya menyukai seseorang yang ibunya adalah petugas sosial yang mengurus ibu pacar saya. Si petugas sosial itu berkencan dengan seseorang yang bekerja satu kantor dengan rival ayahnya dan ayah saya. Saya suka mem-bully seorang anak, yang ibunya adalah seorang anggota dewan pendukung Barry…

Saya rasa saya nggak bakal melanjutkannya. Itu sudah cukup rumit belum? :p

Kesalahan dari sembilan puluh sembilan persen manusia adalah merasa malu menjadi diri mereka; berbohong, mencoba menjadi orang lain. (Hal. 92)

TCV jauh dari ekspektasi saya. Yah, sebenarnya saya nggak berkekspektasi apa-apa sih. Saya belum pernah baca sinopsisnya (ini serius) dan saya juga tidak terbayang-bayang nama J.K.Rowling sebagai penulis Harry Potter itu. Selentingan yang pernah saya dengar adalah ceritanya yang tidak terlalu “bagus” dan terjemahannya yang entah bagaimana.

Tapi selentingan itu buat saya pribadi adalah salah. TCV adalah buku yang komplit. Kalimat-kalimat tidak terbuang sia-sia. Tokoh-tokohnya memang brengsek (I think I’ve said that many times) bin ajaib dan menyebalkan, rasanya diri ingin juga menjadi brutal. Hubungan antar keluarga, anak-orang tua, suami-istri, para kekasih, tetangga, yang begitu kelam dan penuh kepura-puraan. Akan tetapi entah kenapa saya merasa mereka bukan orang jahat, mereka hanya terlalu…

Manusiawi.

Memilih berarti ambil risiko: kau harus merelakan semua kemungkinan lain ketika kau memilih (Hal. 512)

Saya lumayan menyukai (kalau gengsi dibilang sangat) cara bercerita JKR di TCV (jujur saja saya sebenarnya lupa bagaimana ia bercerita di Harry Potter). Bahkan saya suka sekali dengan endingnya, it is a perfect ending. Jadi sebenarnya seharusnya buku ini tidak ada masalah, dalam artian, Mbak Bzee tidak perlu repot-repot memilihkan buku ini sebagai buku tantangan saya. Tapi… saya bukan pembaca yang sabar. Membaca buku tebal adalah hal yang saya agak tidak sukai karena membutuhkan mood dan waktu yang sulit saya tentukan. Buku ini bisa ada di rak saya bertahun-tahun tertutup debu, menunggu giliran dibaca. Tapi, saya “dipaksa” bersaing membaca cepat. Dan Karena saya tidak bisa naik jetcoaster di sini, maka meraih “kemenangan” adalah satu dari yang bisa membuat adrenalin saya naik. Saya butuh adrenalin saya naik, dan saya suka hadiah. 20% buku ini membutuhkan sekitar 3-4 hari, sementara 80%-nya dilibas sehari semalam. I am so proud of myself :-p

Oh iya lupa, untuk kesegalanya, lima dari lima bintang.

 

Advertisements

3 thoughts on “Review: The Casual Vacancy by J.K.Rowling

  1. Pingback: Tantangan Spesial Joglosemar : First Winners | Bacaan B.Zee

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s