Unplanned Love

20150522_213132Judul : Unplanned Love

Penulis : Jenny Thalia Faurine

Penyunting : Afrianty P. Pardede

Halaman : 297

Penerbit : PT Elex Media Komputindo

ISBN : 9786020248585

Nggak ada angin, nggak ada hujan, tiba-tiba JEDAAARRR!!! Aruna Maheswari dilamar oleh Seta Adhiraya, seorang tak dikenal. Siapa Seta? Kenapa Runa tiba-tiba diminta diajak menikah?

Kalimat di atas cukup untuk mewakili cerita dengan judul yang jelas-jelas adalah spoiler. Unplanned Love, cinta yang tidak direncanakan. Karena itu berarti ya ujung-ujungnya ada cinta dong ya. Hehehe.

Runa, seorang penulis yang cukup terkenal harus terlibat dalam permasalahan yang dibuat oleh Cintya, sahabatnya, yang menghilang begitu saja. Tidak hanya dikejar-kejar tukang kartu kredit, Runa juga harus habis-habisan lari dikejar Seta(n) yang gigih melamar dan menggunakan segala cara agar Runa luluh. Ketika akhirnya terkuak alasan sebenarnya, Runa dan Seta sadar bahwa ada kata cinta terselip di antara mereka. Tapi, benarkah itu cinta?

He needs a chance. A chance from her. He needs the second and another chance (Hal. 237)

Kekuatan di buku ini adalah penyampaian yang anak muda banget dan terkesan fun. Ya jelas sih, target pembacanya adalah anak muda. Namun, tokoh cowok kasar tapi keren yang bisa membuat kyaaa kyaaa (doh bad guy is so my type), belum bisa menutup bosannya saya dengan tema “benci menjadi cinta”. Alur ceritanya juga cukup berkesinambungan walaupun menurut saya terlalu panjang di awal. Berapa kota sudah Runa singgahi dan tiap kota hanya dihabiskan dia kesal bertemu Seta yang terus membuntuti dia?

Karakter dan isi cerita pun masih mentah. Karakter yang jelas adalah si Runa, sang gadis pemberani. Saya nggak ngerti apa yang bagus dari Seta. Gantengnya nggak begitu dijabarkan (cuma dibilang dia ganteng. Ya ganteng gimana? (Saya juga dibilang cantik sama ibu saya. Nggak ding, ibu saya hampir nggak pernah bilang saya cantik. Kalopun muji pasti belakangnya nggak enak). Lalu Cintya si biang kerok? Saya nggak ngerti kenapa Runa mau-maunya sahabatan sama Cintya. Saya percaya temenan itu harus bersimbiosis mutualisme.

Friendship- my definition- is built on two things. Respect and trust. Both elements have to be there. And it has to be mutual. You can have respect for someone, but if you don’t have trust, the friendship will crumble.”  – Stieg Larsson, The Girl with the Dragon Tattoo

Kemudian, lagi-lagi saya akan mengungkit soal profesi tokoh yang nempel semata. 25 tahun? Pengacara cukup sukses? Saya sangsi. Saya nggak ngerti pekerjaan di dunia hukum ini sih. Tapi, 25 tahun itu kira-kira dia baru lulus kuliah 3 tahun sebelumnya. Dan pasti ada pendidikan profesi dan lain-lain dan tetek bengek lainnya sebelum menjadi seorang pengacara yang cukup sukses dan membuat firma hukum kecil-kecilan sendiri.

Cerita di awal mungkin seru saat Seta dan Runa main kejar-kejaran itu, tapi setelah rahasia mulai terkuak, rasanya alasan Seta mengejar Runa terasa kentang dan kurang polesan. Alasan utamanya buat saya sih begitu penting dan adalah isu yang cukup sensitif, tapi hanya sekadar angin lalu, lalu langung beralih ke proses kejar-kejaran cinta selanjutnya. Jadi novel ini berisi orang kejar-kejaran yang hanya diselipi drama hidup tokoh utama pria. Sekali lagi, nyelip doang.

Sekali lagi karena bahasanya yang cukup menyenangkan membuatnya masuk kategori page turner buat saya. Taaapiiii….. tapi yaaaa…. novel ini buat saya amatlah tidak rapi dari segi bahasa. Saya bisa menikmati adanya selingkung, dan saya biasanya nggak terlalu rewel sama typo, tapi yaaa letak tanda baca yang terlalu njumplang dari EYD juga cukup bikin saya mengelap peluh. Misalnya adalah tidak adanya tanda koma di pilihan ketiga. Eh bingung ya? Gini nih contohnya (kalimatnya bukan kalimat dalam novel sih ya):

EYD: Tadi pagi saya bertemu Reina, Wahyu, dan Dodi.

Di Novel: Tadi pagi saya bertemu Reina, Wahyu dan Dodi.

Pertanyaannya: Wahyu Siapa Pat? #eh. Mana koma setelah kata Wahyu???

Tadinya saya pikir oh ini salah cetak saja, tapi kok ternyata berlaku di semua kalimat yang punya model sama?

Kemudian yang juga sangat mengganggu adalah huruf cetak miring. Kita tahu bahwa kata dari bahasa asing dicetak miring. Masalahnya adalah ketika ada pembicaraan  atau penekanan kalimat. terkadang kalimat juga dicetak miring. Dan di komputer, ketika kamu mencetak miring tulisan yang sudah dicetak miring, jadinya malah nggak miring. Eh bingung ya? hehehe, gini nih contohnya:

20150522_224532

Di gambar di atas, “be nice” justru tidak tercetak miring. Padahal kalimat berbahasa Indonesia lainnya tercetak miring.

Saya nggak akan bahas betapa saya kesel karena ada satu kata “bergeming” salah pakai di sini (lah itu dibahas!!). Saya bukan grammar nazi. Tapiiiiiiii ini buku kok yaaaaaa bisa salah di kalimat sederhana. Your welcome, Does She Needs a Summer Fling?, waiters (padahal pelayannya ya cuma satu) adalah tiga contoh yang bikin saya benar-benar mengeluh. Dan segala ketidak rapian inilah yang membuat saya enggan untuk memberi bintang lebih dari dua. Satu bintang untuk isi keseluruhan, satu bintang untuk covernya (Yes I judge a book by its cover).

Ini adalah novel Jenny ke-2 yang saya baca. Dan karena dibaca dalam waktu yang berdekatan dengan novel terbarunya, Wedding Rush, mau nggak mau saya jadi membanding-bandingkan. Unplanned Love memiliki penyampaian yang lebih (terlalu?) santai. Dan ini adalah poin bagusnya, karena berarti ada peningkatan di dalam novel Wedding Rush. Jujur saja, saya tidak menemukan ada yang spesial pada tulisan Jenny, tapi dengan banyak latihan menulis, saya yakin Jenny pasti bisa menjadi lebih baik :)

Oh dan terakhir, bisa nggak berhenti menulis (masih) berusia sekian belas tahun di profil penulis. Saya nggak ngerti apa fungsinya diletakkan kata “masih”. Maksudnya ingin memuji penulis yang masih muda bisa menghasilkan karya? Hei, Anda membuat penilaian berdasarkan umur, jadi jangan salahkan juga jika ada yang menilai karya Jenny dari umurnya :)

_

Buntelan BBI yang dijarah didapat di perayaan ultah BBI. Yay! Terima kasih, Bebi :)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s