Wedding Rush – Review Marathon

20150519_012241Judul : Wedding Rush

Penulis : Jenny Thalia Faurine

Penyunting : Afrianty P. Pardede

Halaman : 328

Penerbit : PT Elex Media Komputindo

ISBN : 9786020263496

Dua tahun telah berlalu, Padma Paramitha tiba-tiba muncul kembali setelah menghilang dari kehidupannya di Jakarta. Hal ini tentu saja menjadi kabar menggembirakan dan mengejutkan bagi ketiga sahabatnya, Rajata, Resita, dan Daka. Kepergiannya dulu yang tiba-tiba bukan untuk wisata, tapi adalah suatu pelarian atas nama cinta. Padma yang tak sanggup melihat cinta Rajata dan Resita kali ini harus belajar memaafkan dan mengerti apakah itu cinta.

Adalah Daka, sahabat setianya yang selalu dalam suka dan duka bersama Padma. Tapi kebersamaan mereka selama 9 tahun ini membuat garis cinta dan persahabatan terlalu berbeda tipis. Ketika hadir Riko, yang dengan terang-terangan menginginkan cinta Padma, Padma dan Daka menyadari bahwa ada yang tidak biasa dari hubungan “persahabatan” mereka. Namun sebuah hubungan, apalagi yang akan berujung pada pernikahan (dan telah dipersiapkan begitu matang) juga menuntut tanggung jawab dan kedewasaan. Jalan apa yang harus ditempuh?

**

Wedding Rush adalah karya penulis muda Jenny Thalia yang pertama saya baca (dapet cap bibir pula). Jenny jelas tahu bagaimana ia ingin menggiring para pembacanya, menjadi gemas dengan kelakuan Daka dan Padma, bersimpati terhadap Riko dan Daka, atau menjadi baper karena hubungan tapi tertutup pertemanan atau kalau kata anak muda sekarang, friendzone bro and siz! :D Bahasa yang dipakai pun mudah dicerna dan walaupun sedikit bertebaran kalimat-kalimat berbahasa Inggris, tapi tidak terkesan “ish sok keminggris!”. Apalagi dengan quote-quote yang pasti bakal bikin galau yang ditulis di setiap awal bab.

Hanya saja, seperti yang banyak dijumpai pada buku ber-genre ini, karena lebih fokus kepada perasaan tokoh-tokohnya, karakteristik dan detil settingnya kurang begitu diperhatikan. Seperti misalnya kepergiaan Padma yang tiba-tiba ke Jerman. Sampai saat ini sebagai WNI, visa Schengen masih dibutuhkan, jadi keputusan Padma untuk melarikan diri sehari setelah ia memutuskan untuk pergi, buat saya adalah janggal. Atau detil kehidupan pekerja di kantor, misal saat Rajata tiba-tiba bisa masuk ke ruangan Daka. Saya pribadi sih belum pernah ya menjumpai yang seperti ini di kehidupan asli, si pemilik ruangan pasti harus diberitahu. Buat saya, walaupun berupa fiksi, detil-detil realis seperti itu tetap harus dipertahankan.

Terlepas dari beberapa kekurangannya, Wedding Rush bisa menjadi bacaan ringan sembari minum teh di sore hari (atau malah bisa stres karena semacam curhat DOH KOK KAYAK GUE SIH DI-FRIENDZONE-IN??). Wedding Rush bisa mengajarkan kita tentang maaf, persahabatan, cinta, dan pengorbanan.

“Lho, jatuh cinta dan mencintai itu sama aja, Re.”

“Beda, Padma. Harusnya lo pikirin hal ini ketika hati lo udah nyantumin dua na,a itu. Jatuh cinta itu adalah ketika lo berusaha untuk selalu bisa bareng sama dia. Mencintai itu adalah ketika lo mau liat dia bahagia-as simple as that.”

(Hal. 249)

***

Review ditulis dalam rangka Review Marathon Wedding Rush

Review Marathon ini diikuti oleh 7 blog, setiap harinya akan bergantian membuat review buku Wedding Rush dan wawancara 1 pertanyaan dengan Jenny Thalia Faurine

***

INTERVIEW DENGAN JENNY THALIA FAURINE

Hi Jenny! Ngomong-ngomong soal “Wedding” dan “Rushing”, menurut kamu suatu wedding bisa di-rush nggak sih? *nyengir kuda*

Bisa. Hubunganku sama dia aja bisa di-rush, apalagi pernikahan. #lho Menurutku, bisa. Tergantung dari situasi dan kondisi yang dialami oleh pasangan tersebut.

Jadi ya pemirsah, Jenny itu walaupun baru 19 tahun emang udah pengen wedding-wedding-an, kita doain aja ya. Yah atau paling nggak seperti yang tertuang di jawabannya yang adalah curhat, bisa menggaet si ehm tersayang.
Nantikan review dan interview dengan Jenny selanjutnya di blog peserta Review Marathon lainnya setiap hari, yang urutannya di bawah ini:
  1. Glasses and Tea
  2. Buku Famu Famu
  3. Kumpulan Sinopsis Buku
  4. The Cute Geek
  5. Ky’s Book Journal
  6. Dinoy Books Review
  7. Books Over All
Daaaan…sebagai penutup, akan ada giveaway di blog pengarang kondang kita, Jenny Thalia Faurine,  http://jennythalia.wordpress.com. Nantikan ya buat yang kepingin dapat hadiahnya!
Selamat menikmati Review Marathon Wedding Rush!!
Advertisements

23 thoughts on “Wedding Rush – Review Marathon

  1. Jenny… jawabanmu ini masih mengandung unsur curcol ternyata! :lol:
    Tadinya akik berpendapat kalau segala sesuatu itu nggak musti buru-buru. Kayak famous quote yang beredar selama ini, “semua akan indah pada waktunya” :lol: tapi setelah baca jawaban itu, akik jadi mikir lagi. Uhmmm, ada benarnya juga dan memang tergantung sikon. Bisa aja serba di-rush asal ada niat, kemauan dan persiapan yang pas meski diburu-buruin. ;)

    Like

  2. Pingback: [Giveaway] Review Marathon “Wedding Rush” | Jenny Thalia Faurine

  3. Kayaknya kisah percintaan padma ruwet banget..dan ya, garis persahabatan dan cinta emang tipis banget, kadang kita gak bisa membedakan rasa cinta itu dengan kasih sayang sebagai seorang sahabat. jenny kayaknya sekalian curhat yaa. Hahahha:D

    Like

  4. Hmm sedih sih kalau cowok yg disuka jadian n nikah sama sahabat dekat. Kayaknya pelarian Padma bukan hanya ke tempat yg jauh tp ke orang yg salah juga :( semoga Jenny… eh Padma *nyengir* bisa segera move on ;p

    Like

  5. Yup bener banget. Meskipun berupa fiksi, detail-detail realis seperti yang dituangkan dalam review harus tetap dipertahankan. Kesannya supaya lebih hidup dan membuat pembaca bisa masuk dalam cerita. Berinteraksi dengan para tokohnya. Kan sayang kalau ceritanya udah bagus tapi detail setting-nya kurang. Tapi memang, kalau ada kelebihan pasti ada kekurangan. Friendzone? Ugh…akhir-akhir ini saya sedikit sensitive dengan kata itu. Kenapa ya? ^-^

    Like

  6. Jatuh cinta sama sahabat sendiri itu rasanya nyakitin apalagi klo tau bertepuk sebelah tangan, ditinggal nikah pula duhhh pngen pergi aja ke tempat yg jauh kaya padma:( biarpun cerita fiksi tp berkat tangan lihai kak jen ceritanya bisa lebih hidup,membawa pembaca berasa masuk kedalam cerita. Good job kak jen, keep writing!!^^9

    Like

  7. Aku pernah baca buku tentang orang yang melakukan pelarian cinta, tapi berbeda dengan buku yang satu ini😁 kalo yang ini permasalahannya lebih kompleks, lebih kerasa nyesek nya deh😁 dan yang ngebuat bingung, antara Padma, Daka, dan Riko. Hmm, Padma milih siapa ya? Makin penasaran banget deh kak ^^

    Like

  8. Ini juga enak review-nya buat dibaca. Singkat, jelas, padat, plus ada kalimat bikin baper(?)
    Dan dari kutipan percakapan Padma dan (kayanya) Resita, aku jadi mikir, Resita tau nggak kalo Padma suka sama Rajata juga? Kok sante banget ngomong gitu… :3
    Penasaran sama novelnyaaaa.

    Like

  9. Nama : sabila rahmah azzahra
    Domisili : prabumulih, palembang, sumatera selatan
    email : sabilarahmah1@gmail.com

    Jawaban : aku ngeliat postingan ini dari twitter kakak, setelah baca sinopsisnya aku tertarik banget sama novel kakak. pertanyaan kakak itu bikin nyesss, secara itu yang aku alamin sekarang. menurut aku ketika kita mencintai sahabat kita, yang ita lakukan cuma bisa menyembunyikan perasaan kita sendiri, secara kita udah sahabatan apalagi sahabatannya udah lama masa persahabatan kita harus hancur gara-gara cinta. Dan seandainya kita bisa mengubur perasaan kita mending kita kubur aja. walaupuun rasanya sakit insya allah bisa kok. jodoh itu nggak kemana, dan kalo memang menurut kita harus diperjuangin perjuangin aja. cinta nggak harus memiliki, cinta hadir jika kita merasa nyaman sama seseorang :)
    semoga aku bisa dapetin novel kakak, dan aku bisa jadi penulis kayak kakak amin O:)

    Like

  10. Persahabatan yang dicampuri masalah cinta, ada embel-embel masa lalu lagi. Kok kayak lagi ngaca, yak? Hahaa….
    Ini ceritanya pasti bakal bikin jantung kebat-kebit, deh. Duh… nggak sabar pengen baca.

    Like

  11. Mencintai itu adalah ketika lo mau liat dia bahagia, as simple as that. Padahal itu ga sesimel itu, butuh bertahun-tahun untuk bisa merealisasikannya, dan dari novel ini aku pengen tau gimana caranya Padma ngelakuin itu.

    Like

  12. reviewnya singkat banget, tapi bener juga yang jadi blog host :) unsur realistis harusnya juga kuat walaupun dalam cerita fiksi kayak Wedding Rush :) Karena aku pribadi, jangankan pas baca novel fiksi kalo nonton sinetron pun yang scene-nya dari kuburan eh langsung terganti di RS bisa bikin aku emosi sendiri..

    Like

  13. Aduh ngakak banget ini sama interview-nya. Wakaka. Oke, sekarang aku jadi bertanya-tanya, dengan sifat Jenny yang rada humoris gini, sebetulnya gimana ya gaya berceritanya di novel galau, esp Wedding Rush? Hoho~~

    Like

  14. Sinopsis yang paling singkat dan jelas, setidaknya aku sudah menemukan konflik di novel ini. penilaiannya juga membahas mengenai kekurangan novel yang dalam penuturan setting dan kelogisan alur cerita tidak terlalu jelas.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s