Memory & Destiny

20150408_194108Judul : Memory and Destiny

Penulis : Yunisa KD

Halaman : 264

Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama,  2010

ISBN : 9789792256581

Maroon Winata bertemu dengan Donald di masa kecilnya, tak kasat mata. Donald bersama Maroon layaknya peri penjaga. Di suatu hari, Donald pergi meninggalkan Maroon sendiri. Sepuluh tahun kemudian, Maroon bertemu seseorang bernama Donald. Apakah Donald yang sama?

Review contains spoilers.

Jawabannya adalah ya. Hahahhaha. Ya nggak usah dikasih tahu juga pasti tahu, judulnya kan menyangkut memory dan destiny. Ya jelaslah.

Membaca buku ini sulit sekali bersikap netral. Saya nggak tahu buku ini tapi karena suatu ketika dibahas dengan rekomendasi yang kurang positif, saya malah penasaran dan kembali lagi nggak kapok menantang diri (baca romens aja saya udah sakit kepala, ini amore-amorean yang ratingnya gitu deh, bisa-bisa saya jedotin kepala ke bahu kamu). Ditambah, kalo menilik rating Goodreads pun tidak mencapai angka dua. Tapi tetap saja nggak adil kalau buku ini dibilang kurang bagus tanpa saya selesai membacanya. Alhamdulillah walaupun dengan kening berkerut dan pengen cakar-cakar tembok, selesai juga :D

Saya suka idenya. Maroon kedatangan arwah Donald, yang koma karena kecelakaan di hari pernikahannya (sehingga dia nggak jadi nikah sama pacarnya dan itu adalah destiny yang memisahkan). Roh Donald yang mengawang-awang mengikuti Maroon tanpa alasan pasti (mari kita setujui saja bahwa alasan dari semua itu adalah takdir). Kemudian Maroon dewasa bertemu Donald lagi. Ketika semua baru mulai berjalan mulus. Tiba-tiba Maroon amnesia. Alhamdulillah lagi saya nggak kaget sama ke-amnesia-an Maroon ini. Saya hanya bisa komen “Oh, oke.” Sampai akhirnya ingatan Maroon kembali dan ia kembali bertemu dengan destiny-nya. Saya suka sekali idenya. Dan judul novelnya pun juga sangat nyambung dengan ceritanya. Lugas dan jelas.

Tapi ya itu, saya cuma suka sama idenya. Dalam kategorinya, amore, saya nggak menangkap hal ke-amore-amore-an dari cara penyampaiannya. Bahasa yang digunakan tidak cantik dan cenderung kekanakan. Saya semacam membaca curhat anak ABG di blog. Dan cara penulisan kayak gitu ada di sepanjang 260-an halaman. Saya nggak benci, saya cuma lelah kzl mz kzl. Pake banget.

Saya juga nggak ngerti kenapa si penulis suka banget gonta-ganti sudut pandang. Kebanyakan sebagai orang ketiga. Tapi di waktu-waktu yang tak terduga bakal berubah jadi Maroon, sedikit jadi Donald, lalu sempat sekali jadi Sharon sahabat Maroon. Fungsinya apaaa?? Mbok konsisten ngono lho *tampar muka* *pake duit* Ke-nggak konsistenan itu juga terpancar dari hampir di seluruh pengeksekusian. Banyak banget cerita nyelip atau kalimat terbuang percuma *deep sigh*

[Note: Yang berwarna biru adalah komentar saya)

Berat badanku tidak kunjung ke angka ideal. Walau Papa dan Mama bilang berat badanku normal-normal saja. Tapi nyaliku sudah menciut  untuk mengirimkan formulir lomba itu. (Hal. 54) *ketawa dalam keheningan* Trus ngapain dia dicritain pengen ikut lomba foto modeeel?? Kenapaaa??

Ketika aku nyaris terlelap malam harinya, kulihat Donald sedang bergulat dengan monster putih yang kutahu di TV disebut pocong (Hal. 35)  Berantem sama pocong. Oke. *cabik-cabik diri* 

Toh pepatah mengatakan “takkan lari jodoh dikejar” , atau “asam di gunung, garam di laut, bertemu juga dalam belanga” (Wah oke, dia serius nih). Mungkin sekarang Donald  memang belum jodohku. Jadi buat apa  susah? Buat apa susah? Susah itu tak ada gunanya … Ah kok jadi anak TK sih! *hening sesaat* *brb packing baju buat ikut the doctor naik TARDIS* (Hal. 229)

David adalah pria yang baik. Dia bukan sekedar (iyaaa tulisannya sekedar) tipe pria penggoda walaupun gerakannya di lantai dansa benar-benar menggoda selera  (Memangnya selera makan?) *jedukin kepala ke tembok* (Hal. 194)

Apa siih apa fungsinya di kasih komentar semacam komen pribadi gituuu *nangis di pangkuan Matthew Goode* Saya nggak sanggup lagi deh ngasih contoh kalimat/paragraf lainnya. Skali lagi KZL MZ KZL!

Oh, trus, dengan setting berbagai negara: Indonesia, Amerika Serikat, Singapura, Inggris, saya sedih karena nggak bisa menemukan hal-hal yang indah dan menyenangkan dari sana. Inggris pun di Westminster Abbey mulu. Kok ya kayak nggak ada tempat lain? Semuanya adalah tempelan yang menyatakan bahwa si tokoh ini lho orang kaya, bisa pergi kemana-mana tanpa perlu khawatir soal harga tiket dan visa. Sama dengan tempelannya dengan cerita bahwa Maroon adalah anak peraih nobel fisika dan dokter spesialis pencernaan.

Lalu kemudian yang bikin saya lelah, ada apa sih dengan Ricky Martin? Ketika pertama kali Om Ricky ini disebut yah okelah pada tahun 1999 itu penyanyi ini masih ngehits banget. Tapi sampai beberapa belas tahun kemudian, nama Ricky Martin sebagai acuan orang tampan ini masih disebut. Haduh bosen banget liatnya (tapi mari anggaplah Maroon ini ngefans banget sama Ricky Martin). Tapii… jadi gini ada saingannya Donald, namanya David, separo Jepang (duh kasian banget ya ibuknya nyebut nama anaknya jadi Dabit) dibilangnya kayak Ricky Martin. Di dunia ini Ricky Martin masih orang latin, kan? Ya saya nggak tau sih kalo di dunia parallel lain dia orang mana.

Okeh udahlah, saya nggak mau nyaingin masterpiece review-nya Mbak Dewi yang kok ya betah banget nulis detilnya panjang lebar. Ini tulisan nggak guna, liat aja review Mbak Dewi yang lebih panjang, mendalam, dan 11-12 sama pikiran dan perasaan saya saat membaca buku ini.Saya nggak nyalahin penulisnya, kok. Saya cuma nggak abis pikir kenapa yang macam gini bisa lolos, terlebih buat jadi Amore. Wa lelah nulis ini emesh emesh cenudh cenudh.

*ambil balsem gosok*

Rating? Terserah lah berapa aja nggak sanggup lagi nulisnya.

Advertisements

One thought on “Memory & Destiny

  1. Toh pepatah mengatakan “takkan lari jodoh dikejar” , atau “asam di gunung, garam di laut, bertemu juga dalam belanga” (Wah oke, dia serius nih). Mungkin sekarang Donald memang belum jodohku. Jadi buat apa susah? Buat apa susah? Susah itu tak ada gunanya … Ah kok jadi anak TK sih! *hening sesaat* *brb packing baju buat ikut the doctor naik TARDIS* (Hal. 229)

    *ngakak jungkel

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s