Everlasting

20150208_155519Judul : Everlasting

Penulis : Ayu Gabriel

Penyunting : Herlina P. Dewi

Proofreader : Tikah Kumala

Halaman : 323

Penerbit : Stiletto Book, 2014

ISBN : 9786027572256

Kayla, seorang junior di suatu lembaga internasional naksir Aidan, bosnya yang keren berat. Perjuangannya mungkin berat, karena ia memiliki saingan yang sengit dan tidak mau mengalah. Sementara itu muncullah Dylan, seorang pria dengan wajah awet muda mungkin minum darah orok yang sepertinya mendekatinya, dan punya masa lalu dengan Kayla. Ditemani oleh Pira sahabatnya, Kayla berusaha menemukan cintanya. Apakah ia benar jatuh cinta kepada Aidan? Atau hanya mencintai gagasan untuk mencintai Aidan?

Satu halaman baca bab satu, dan saya sudah pengin membanting buku ini sambil bilang “SA****!”. Tapi kemudian saya urungkan karena saya pikir untuk ngata-ngatain sebuah buku, saya perlu membaca sampai tuntas. Bukan tidak mungkin di pertengahan dan akhir saya akan menyukai buku ini. Maka saya baca buku ini sampai tuntas dan hmm baiklah, saya cukup berkomentar “Lelah…”.

Kayla naksir Aidan. Dan mengagumi bokongnya yang indah itu. Umur Aidan sekitar 9 tahun di atas Kayla, walaupun bokongnya indah. Serius, perihal bokong indah ini berulang-ulang disampaikan. Oke, saya paham kalo ada orang yang bisa suka sama bokong indah, tapi untuk sampai tergila-gila sama seseorang, dibutuhkan lebih dari sepasang bokong indah. Capek banget bacanya. Sama capeknya dengan kalimat makian khas Kayla yang juga berulang-ulang dan nggak pernah ganti- Saus kacang. Waktu pertama baca, saya cukup tertarik dengan idenya. Tapi, oh Tuhan, bener deh. Emang nggak bisa apa nambah sedikit kosakata makiannya? Misalnya, alang-alang! Atau… Royal ginseng! Atau.. beras kencur! Lagipula untuk bisa naksir pula sama Aidan, saya kurang mendapat pendeskripsian betapa kerennya Aidan ini. Oke, bokongnya bagus (udah berapa kali saya bilang bokongnya bagus? OMG I just did it again!), dia assistant director untuk apa lah itu, tapi kinerjanya sebagai assistant director apalah itu yang seharusnya bikin dia keren nggak terasa. Aidan hanya hadir di saat rapat, dia lewat meja Kayla, dan gitu gitu doang.

Sekarang masuk ke tokoh utama pria, Dylan. Waw, pria yang bakal dapat komen “ya ampuuun so sweeeet…”. Hhh, iya iya saya ngaku beberapa kelakuannya ada yang bikin saya nyengir. Tapi… hehehe, nggak ada tapi. I like him (HALAH!)

Saya suka interaksi Kayla dan Dylan beserta keluarga besar mereka (yang entah kenapa ada tokoh kakaknya Kayla dan kakaknya Dylan tapi keduanya nggak pernah dapat porsi cerita). Tapi saya menginginkan emosi lebih tentang perseteruan cinta Kayla – Dylan – Aidan. Etdah Aidan lagi? Iya dong, di premis buku disinggung-singgung soal Kayla rela berbuat macam-macam termasuk membuat tato karena konon katanya Aidan suka dengan perempuan bertato. Dikatakan Kayla juga mengubah selera musiknya. Tapi saya sih nggak lihat ada perubahan selera musik selain dia beli CD Michael Buble yang sebelumnya dia nggak kenal. SERIOUSLY?? NGGAK KENAL MICHAEL BUBLE??? ATAU GUE AJA YANG SALAH NGARTIIN?? Oh maaf saya bukan lebay. Tapi dari penjabaran karakter Kayla, dia cukup kekinian. Tapi kok nggak bisa ngenalin Michael Buble? Plis deh, kalo dia nggak kenal Cak Dikin baru saya percaya. Ada yang tahu Cak DIkin? *nyengir kuda*. Tapi bagaimana pun obsesinya Kayla ini kurang panas dan kurang bikin membakar emosi. Karakter Dylan yang manis membuat pembaca mau tidak mau harus cuma suka sama Dylan. Nggak ada pilihan untuk lebih menyukai Aidan. Ini nggak fair! *ngomong ala-ala drama abege*. Hal nggak fair lainnya adalah betapa Kayla begitu judgmental eh menghakimi karakter saingannya dalam memperebutkan Aidan, Jessica. Kenapa perempuan bertubuh seksi dan berbaju macam mengumbar aurat dikonotasikan seseorang yg negatif? Pira yang ngerokok bahkan bisa dijadikan sahabatnya? Naif sekali. Padahal kalo mau dipikirkan, ngerokok ngerugiin orang. Baju seksi justru banyak yang senang :D

Judul novel sesuai dengan cerita bahwa cinta Dylan begitu everlasting dari dulu sampai sekarang walaupun Kayla tidak bisa ingat apa yang terjadi pada mereka dulu. Yang menurut saya adalah BULLSHIT!!! Saya nggak ngerti gimana ceritanya Kayla bisa lupa sama sekali, sekali lagi, sama sekali soal Dylan. Kayla bahkan nggak dicritakan pernah ketabrak apa sampai amnesia atau apalah itu. Dan dia nggak bisa mengingat apa-apa soal Dylan??? Padahal kisah mereka di jaman dulu udah lebay banget kaya gitu? Oh, please… -______-

Satu bintang untuk penggunaan bahasa Inggris yang menarik dibaca. Beberapa percakapan campur-campur sih, tapi masih bisa saya terima. Satu bintang lagi untuk kesabaran sang penulis yang sudah menuliskan ceritanya dengan rapi.

Terakhir, plis dong Stiletto, ini bukan buku cerita anak-anak. Covernya itu lho. Hadeh -____-

Submitted for:

One Word Only!

One Word Only!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s