Spora

DSC_0003Judul : Spora

Penulis : Alkadri

Penyunting : Dyah Utami

Halaman : 238

Penerbit : Moka Media, 2014

ISBN : 9797959104

Alif, pemuda kelas 12 di satu SMA di Bogor mendapat kejutan di satu pagi. Ia yang biasa datang pertama ke sekolah, menemukan mayat dengan sosok tubuh yang dikenalnya. Sosok tubuh saja, tanpa kepala. Peristiwa mengejutkan itu membawanya kepada pembunuhan-pembunuhan lainnya, masa lalu, dan… MONSTER.

Siapa pelaku pembunuhan? Apa hubungannya dengan Alif?

JREEENNGG…. Pertama-tama saya mau mengucapkan selamat kepada Alkadri yang novel keduanya sudah terbit. Yaaay!!! Makan-makaaan….

Baiklah. Hmm, dari mana kita mulai? Buku ini bercerita tentang kisah pembunuhan yang tidak biasa. Ada mayat tak berkepala, tapi ada sesuatu yang aneh dari pecahan remah-remah rempeyek kepalanya. Dan itu akan membawa kita ke nuansa bingung siapa pelakunya. Dan apa hubungannya dengan prolog yang menceritakan bahwa ada beberapa anak ekskul KIR yang belum lama kembali dari luar negeri (yang kemudian diketahui ternyata mereka dari Brazil).

Di tengah-tengah cerita, tokoh Fiona si cantik baik hati muncul, dan menggiring kita memecahkan tanda tanya bagaimana proses kematian korban. Juga mulai diungkit masa lalu Alif yang ternyata cukup mengejutkan. Dan kita mulai membuat spekulasi berlebih tentang siapa pembunuhnya. Lalu masuk ke bagian akhir, teka-teki mulai terkuak dan membawa kita melihat siapa atau apa pembunuh aslinya.

Lalu, bagaimana kesan-kesannya, Pat? Ketika baca buku ini saya penasaran di mana letak “spora”nya. Setelah tahu kenapa judulnya “Spora”, saya cuma bisa ber-“ooh di situ” aja. Mungkin idenya menarik, tapi gimana ya, saya sudah kepalang nonton Hannibal series yang edisi om Hannibal itu nanem tumbuhan di tubuh manusia dan itu sangat hanjrit apa-apan itu! Jadi membaca penjelasan di buku ini cuma bisa bikin saya bermuka datar.

Dan… karena saya suka memperhatikan hal-hal kecil gak penting, yang mana walaupun nggak penting kalo nggak asik malah bikin mood baca saya rusak. Beberapa di antaranya :

1. Penggunaan kata “kau” dalam percakapan yang tidak konsisten. Di percakapan antara Alif dan Rina sahabatnya, kadang-kadang pakai kau. kadang-kadang kamu. Yang bener yang mana, sih? Lagian sama sahabat kok pake “kau”?

2. Disebutkan anggota KIR baru saja melakukan perjalanan konferensi dari Brazil. Trus dibilangnya pesawatnya berbelas-belas jam. Duh, Brazil-Jakarta ya berpuluh-puluh jam tho, ya.

3. Lalu ada tokoh Roy si ketua OSIS yang disebutkan pernah bikin demo karena sekolah narik “pungutan” mulu padahal udah ada program pemerintah wajib belajar 9 tahun. Duuuhh, itu kan SMA, ya udah lebih dari 9 tahun laah. Jadi kalau mau bikin demo ya alesannya apa kek pokoknya bukan itu laaah.

4. Dan ini yang bikin mood saya rusak berat di bab tiga. Ada kalimat: Alif tak bergeming, bahkan ketika Rina datang dan duduk di hadapannya. SERIUSAN?? LO MASIH SALAH BEDAIN ANTARA BERGEMING DAN TAK BERGEMING???

Jadi, walaupun kisah kurcaci tamak yang sangat menarik dimunculkan, karena hal-hal nggak penting yang sudah saya sebutkan (dan hal gak penting lainnya), karena terlalu banyak menemukan kata “mengerling” (seriusan saya sebel sendiri bacanya), karena ilustrasi di dalam buku agak gimanaa gitu, karena tokohnya gak tergali lebih dalam, dua bintang dari lima.

-=-

Ini adalah buntelan BBI saya yang ke-tiga di tahun ini. Alhamdulillah, rejeki anak solehah :3. Terima kasih BBI :)

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s