Dear Prudence

DSC_0056Judul : Dear Prudence

Penulis : Dannie Faizal

Halaman : 252

Penerbit : Bentang Belia, 2014

ISBN : 9786027975798

Irvine Suherman, tergila-gila kepada The Beatles (atas racun dari bapaknya). Jejak langkah hidupnya selalu ditemani lagu-lagu milik The Beatles, pun dianalogikan dengan lirik-liriknya. Suatu kebetulan, gadis idamannya, bernama Prudence, makin melengkapi daftar lagu Beatles yang bisa disambung-sambungkan dengan hidupnya, yang berjudul “Dear Prudence”.

Buku ini adalah kilas balik kehidupan Irvine, rentang waktunya adalah sedikit di awal kuliah hingga sekarang ia bisa menjadi sukses. Tapi kesukesannya tidak serta-merta mudah ia dapatkan. Mulai dari kisah bodoh di awal kuliah, proses magang yang menghabiskan emosi, masalah keluarga, masalah mencari pekerjaan, tak ketinggalan masalah cinta, dengan Prudence, yang apakah akan menjadi masa depannya?

Disajikan dengan gaya bahasa yang mengalir lancar dan kekinian, Dear Prudence, dengan gaya kocaknya, mencoba menyampaikan pesan-pesan moral tentang kehidupan.

Pertama, saya mau ngaku kalau saya nggak kenal pengarangnya. Dan setelah saya sedikit stalking di Twitter si empunya (@danniefaizal), agak kaget juga ternyata Bang Dannie (heyak sok akrab) udah punya banyak novel. Hahahahah maap ya, Bang. Maklum, saya nggak gaul.

Baiklah, sekarang lanjut ke komen soal bukunya. Saya nggak begitu tahu lagu-lagunya The Beatles. Makanya saya baru tahu kalau judul novel ini adalah judul lagu om-om ponian itu. Makanya saya baru ngeh kenapa kovernya dibuat sedemikian rupa. Saya suka font-nya, tapi dengan segala ke-nggak ngerti-an saya soal grafis dan sebagainya, saya merasa kover ini- kalau dengan bahasa yang saya suka pakai- terlihat tidak mahal.

Baru beberapa kalimat membaca buku ini, saya dibuat melotot dengan penggunaan “gue” untuk menyatakan si orang pertama. Dan tambah melotot lagi karena ternyata si “gue” adalah pria. Maaf udah lama nggak baca buku gue-gue-an, dan semua kembali ke soal selera. Gimana ya, saya agak gimana gitu, baca teenlit (eh bener kan? Ini bisa masuk kategori teenlit kan?) dengan penutur adalah pria. Kesannya nggak macho (halah!).

Saya suka lirik-lirik yang menghiasi awal-awal bab buku ini. Punya kesan si penulis juga pengin ngepromoin lagu-lagunya The Beatles. Dan itu asik banget buat referensi pembacanya. Saya juga suka candaan-candaan di novel ini, soalnya terkesan familier. Termasuk candaan yang nyerempet-nyerempet atau agak kasar atau apa pun, banyak yang saya sering denger, misalnya di halaman 117:

Dari situ gue tahu kalau Lusy ternyata juga penggemar The Beatles, kesamaan inilah yang membuat obrolan kami makin lancar.

“Lo pegang apa emang? Oh gue tahu, pasti lo megang kabel, ya, hahaha…,” ledeknya.

Untuk novel setebal 200-an halaman, novel ini begitu memuat banyak “pelajaran” kehidupan. Saking banyaknya, saya pengin banget bilang “JADIII… DI MANA BAGIAN DEAR PRUDENCE-NYAAA???”. Saya harus gugling dulu, emang liriknya Dear Prudence ini kayak gimana. Dan setelah tahu, saya makin nggak ngerti apa hubungan judul novel dengan ceritanya. Oke, si Irvine ini naksir Prudence. Oke, Prudence kadang-kadang muncul. Tapi ya itu, cuma kadang-kadang. Misal setelah dua bab singkat yang ada hubungannya dengan Prudence, pembaca disajikan berpuluh-puluh lembar yang memuat permasalahannya Irvine di tempat magang yang (seharusnya) cukup menguras emosi, tanpa ada ngungkit-ngungkit si Prudence. Apakah karena judul lagu itu terdengar catchy atau gimana, saya nggak tahu deh. Pula saking banyaknya pelajaran kehidupan ini, banyak bagian cerita yang buat saya hanya jadi tempelan. Tempelan paling fatal adalah pas ada kejadian yang menimpa keluarga Irvine (Nggaaaak, saya nggak mau spoiler!). Itu adalah titik balik penting dan kejadiannya hanya sekadar angin berlalu saja.

Novel ini pas banget buat mereka butuh disadarkan bahwa benarlah memang adanya pertolongan Tuhan itu selalu ada (tsaaah) dengan cara yang mungkin tidak terduga (tsaaah lagi). Irvine yang ngotot pengin banget jadi mograph ternama (Walaupun dijelaskan panjang lebar soal desain dan sebagainya di novel ini, tapi karena saya oon, ya saya tetep aja nggak ngerti mograph ini kerjanya ngapain) malah menggapai kesuksesan yang lain yaitu menjadi penulis.

HAH? PENULIS? (Iya, tulisan di bawah agak-agak spoiler) Yap. Hobi Irvine yang menulis di blog (yang disampaikan di beberapa kesempatan kalau dia suka banget ngeblog) berbuah manis. Buku pertama si Irvine ini ada kaitannya sama perjalanan cintanya dengan Prudence (Iya, perjalanan cintanya yang cuma tempelan itu dijadiin buku).  Siapa sih yang nggak seneng kalau hobi yang aslinya sekadar curhat malah justru “menghasilkan”, saya juga mau. Eheheheheh. TAAAPIIII (iya, saya sengaja pakai huruf kapital soalnya jujur saya agak prihatin soal yang berikut) TAPI YAAAAA… Jadi gini, di situ diceritakan seseorang dari penerbit menghubungi Irvine untuk menjadikan segelintir tulisan Irvine (yang katanya kreatif) itu, untuk menjadi sebuah buku. Dalam waktu dua bulan. Dan saya langsung “ASDFGHJKL SERIUS LO KAYAK BEGINIAN NGAYAL APA BENERAN ADA?” Saya percaya, blog yang kemudian menjadi buku bisa menjadi laris manis tanjung kimpul. Jangankan blog, twit dikumpulin jadi buku aja kan juga laris. Tapi, saya nggak percaya, Irvine, yang baru baca teori-teori perfiksian di dua bulan itu, berhasil menyelesaikan bukunya tanpa banyak suntingan. Kalau benar begitu, yah pantes aja, kualitas buku lokal sekarang kayak gitu :p

Jadi, dengan segala kesubjektifan yang ada, dan tempelan di mana-mana, dan perkembangan karakternya yang nanggung, dua setengah dari lima untuk buku ini.

 

Dear Prudence adalah buntelan BBI saya yang pertama. Terima kasih Bang Dannie yang secara pribadi sudah mengirimkan bukunya ke alamat hati rumah saya. Kapan-kapan kirim kue boleh lho…. :) Dan, terima kasih, BBI. Saya nggak sabar dapet buntelan-buntelan selanjutnya.

Advertisements

One thought on “Dear Prudence

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s