Seribu Kunang-kunang di Manhattan

DSC_0039Judul : Seribu Kunang-kunang di Manhattan. Kumpulan Cerpen Umar Kayam

Penulis : Umar Kayam

Halaman : 260

Penerbit : PT. Pustaka Utama Grafiti, 2012

ISBN : 9789794444283

Buku ini terdiri dari sepuluh cerpen karya Umar Kayam. Yang sayangnya saya tidak tahu ditulis di tahun berapa. Kenapa saya menekankan tahun berapa penulisannya? Pertama, tentu saja dari latar belakang tokoh-tokoh di dalamnya. Beberapa cerita memuat soal PKI, Gerwani, dan saudara-saudaranya. Kemudian, tentu saja soal penggunaan bahasa dan ejaan yang mungkin tidak ditemui lagi di penulis kekinian.

Seperti yang tertera dalam kata pengantar penerbit, Umar Kayam adalah seorang realis. Penggambaran tokohnya begitu nyata dan tidak munafik. Misal, di cerpen berjudul Sybil, sang ibu yang telat bangun berkata “Ya, Allah, sudah pukul setengah sembilan. Aku pasti terlambat lagi.” Tapi di tengah-tengah dan akhir cerita, bisa dilihat bahwa sang ibu adalah seorang pramusaji di sebuah klub dan anaknya bukanlah anak hasil “pernikahan normal”. Buku ini banyak menyinggung pula soal kepriyaian seperti di cerita Bawuk dan Sri Sumarah. Lengkap dengan stereotipe wanita Jawa. Lalu, apa hubungannya dengan judulnya yang berbau Amerika? Beberapa cerita berlatar belakang Amerika, yang mungkin diambil atau ditulis saat atau mengulik pengalaman sang penulis saat di Amerika. Pula menurut saya, cerpen yang lokasinya Amerika ini lebih menarik, ringan, dan segar untuk dibaca. Mungkin ini hanya karena selera saja.

Favorit saya ada dua. Yang pertama berjudul: Istriku, Madame Schlitz, dan Sang Raksasa. Jelas dari judulnya adalah soal istri (yang tokohnya mengambil nama sang penulis sendiri), Madame Schlitz, dan kota New York sebagai raksasa. Dan favorit nomor dua adalah Musim Gugur di Connecticut. Menurut saya, ini gimana ya, rasanya seperti oase di gurun sahara, karena semacam ada hawa suram selama inti cerita lalu ada angin musim gugur yang berhembus tiba-tiba (padahal ya saya nggak tahu angin musim gugur itu kayak gimana).

Kumpulan cerpen ini adalah buku yang saya idam-idamkan sejak saya duduk di Menengah Pertama. Tepatnya, setelah saya baru saja menamatkan buku Umar Kayam yang lain yang berjudul Mangan Ora Mangan Asal Kumpul. Akhirnya bisa terbeli dan terbaca berbelas tahun kemudian. Sebenarnya saya nggak tahu buku ini isinya apa, pokoknya saya pengen aja dari dulu. Dan saya nggak menyesal akhirnya bisa baca buku ini. Buat saya ini salah satu buku yang harus dibaca untuk pecinta buku. Suatu karya yang indah (cailaaah).

Walaupun di beberapa tempat agak kesal karena banyak kalimat berbahasa asing (bahasa Belanda kayaknya ini, lha mana saya ngerti), tetap saja, empat bintang dari lima untuk buku ini :)

 

 

Advertisements

One thought on “Seribu Kunang-kunang di Manhattan

  1. Buku Umar Kayam yg pernah gw baca cuma yg seribu kunang-kunang.

    *dan tiba-tiba inget udah lama ngga nyentuh buku lagi, reading challenge apa kabar yah… :|

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s