The Sense of An Ending

DSC_0020Judul : The Sense of An Ending

Penulis : Julian Barnes

Halaman : 163

Penerbit : Vintage Books, 2011

ISBN : 9780307951243

Harga : Rp 108.000 @ Kinokuniya

Tony Webster, pria berusia enam puluh tahunan. Ia tinggal sendiri setelah bercerai dengan istrinya sejak lama (dan hubungan mereka tetap baik dan akrab seperti biasa) dan putrinya sudah menikah. Tapi bukan itu hal yang ingin ia ceritakan.

Lewat sundung pandangnya, Tony bercerita kisahnya dimulai sejak ia masih remaja. Bagaimana seorang Adrian masuk ke kehidupan dirinya dan sahabatnya. Waktu terus berlalu, hidup berubah dan mereka berpisah, tapi sepertinya juga bukan itu yang ia ingin ceritakan.

Suatu hari, Tony mendapat surat wasiat dari ibu mantan kekasihnya, Veronica. Dengan segala kejanggalan yang terjadi, Tony makin mengingat masa lalunya dan menemukan kejutan-kejutan yang selama ini tidak dipikirkannya.

**

Buku yang akhirnya dikeluarkan dari timbunan. Yuhu! Kalo nggak salah inget, saya beli buku ini di bulan November tahun lalu.

Awalnya buku ini saya kira agak suram-suram gimana gitu, surprisingly surprised, saya nggak merasa suram. Saya justru senang membacanya karena narasinya nyaman. Percakapan-percakapannya pun asik dan beberapa bikin saya pengen ngekek. Contohnya ketika ada seorang tokoh di novel bunuh diri, Tony and the gang berdiskusi:

“How did he do it?”

“He cut his wrists in the bath.”

“Christ. That’s sort of… Greek, isn’t it? Or was that hemlock?”

“More the exemplary Roman, I’d say. Opening the vein,. And he knew how to do it. You have to cut diagonally. If you cut straight across, you can lose consciousness and the wound close up and you’ve bogged it.”

“Perhaps you just drown instead.”

(maafkan selera humor)

Lalu, plotnya pun tidak bikin overdosis. Memang sih pas awal-awal saya agak kesel karena heran kenapa si Mbah Tony itu segitu masih kepikirannya soal mantan pacarnya Veronica. Maksud saya, ya ampun setelah 40 tahun, dia masih kepikiran aja? Tapi tentu saja itu kan ceritanya ya, kalo dia macam nggak move-on gitu, lah apa yang mau diceritain? Hahaha.

Beberapa kali saat meraba-raba (apa yang diraba? *plak*) tokoh Tony jadi seperti merefleksikan hidup saya. Eyaaak.  Nggak ambisius, punya rencana yang biasa-biasa saja malah cenderung biarkan mengalir. Tapi yang saya suka di cerita ini adalah, walaupun kesalahan-kesalahan pasti terjadi, Tony tidak menyesal dengan kehidupannya. Itu yang membuat saya bikin quote “I maybe won’t live to the fullest. But I don’t wanna regret things I would have done”. Yah semacam itulah. Hahaha.

Jadi, walaupun masih dibikin “Hah? Gimana? Apa? Gimana?” gara-gara twist yang agak mengejutkan di akhir cerita (apa sayanya aja ya yang oon karena gak menduga endingnya bakal gitu?), empat bintang dari lima untuk buku ini :)

**

“But we don’t love many people in this life. One, two, three? And sometimes we don’t recognise the fact until it’s too late. Except that it isn’t necessarily too late”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s